Empat Jalan Dalam Berislam (Syariat)

Posted in By imron 0 komentar


       Ajaran agama islam yang mula-mula diterima oleh masyarakat di P. Jawa adalah ajaran yang bersifat esoterik, khususnya ajaran makrifatullah atau ilmu tentang kesdaran akan kehadiran Allah.  karena itu ajaran makrifatullah yang di berikan di Nusantara khususnya P. Jawa diberikan secara berundak, dari kulit hingga isinya.
       kita tentunya sudah mengenal bahwa tataran ilmu dalam agama islam terdiri dari 4 Jalan. keepat jalan itu adalah: 1) syariat, 2) thariqat, 3) haqiqat 4) makrifat.

  1. Peranan syariat dalam agama
       Syariat adalah patokan dalam menjalankan agama, dan sudah ditentukan. hal ini dimaksudkan untuk menjaga persatuan umat, sehingga dibentuklah aturan atau tata-cara baku sebagai identitas komunitas. syariat menjadi landasan moral seseorang dalam berbuat sesuatu, dan di pertanggungjawabkan sepenuhnya kepada Tuhannya. 
       menurut Syeh Siti Jenar, bahwa syariat berkaitan dengan hal-hal yang bisa menjadi patokan umum untuk hidup bersama atau hablum minan nas, dan terbentuk suatu kedisiplinan dalam hidup bermasyarakat. Syariat diturunkan juga dimaksudkan untuk membentuk individu-individu dan masyarakat yang hidup sehat dan kuat dan tidak bercerai - berai. Dalam Serat Wedhatama yang beliau tulis, Syariat disebut sebagai Sembah Raga ( kebaktian secara fisik), dan dinyatakan dalam Pupuh Gambuh, Bait 54-55, sebagai berikut :

Lire sarengat iku
kena uga ingaranan laku,
dhinin ajeg kapindone ataberi,
pakolehe putraningsun,
nyenyeger badan mrih kaot//

Wong seger badanipun,
otot daging kulit balung sumsum,
tumrah ing rah memarah antenging ati,
antenging ati nunungku,
angruwat ruweting batos//


        Syariat itu  Laku. Dalam bahasa Jawa, yang dimaksud laku dalam Serat Wedhatama adalah cara untuk melaksanakan pekerti yang baik dan sehat. Orang yang menjalankan syariat dengan benar, tentu akan makan secara teratur dan tidak berlebihan kecuali sebatas keperluan ragawi. puasa pun dilakukan dengan benar, dan bukan hanya memindahkan waktu makan. Bila Sholat dilakukan secara ragawi, maka gerakan sholat pun harus dikerjakan secara tetap, tertib dan sesuai jadwal. 

Dalam bahasa agama, syariat adalah wajibul yaqin, atau keyakinan wajib yang harus diikuti oleh pemeluk agama. Bila pengamalan syariat itu kita renungkan dalam-dalam, fungsi utamanya adalah untuk membangkitkan rasa disiplin.

jadi, syariat berfungsi untuk mengatur perilaku manusia agar dalam hidup bermasyarakat tidak berperilaku serba permisif  maupun sangat terkekang yang akan menghancurkan kehidupan sosial manusia.